Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Media sosial saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui media sosial, seseorang dapat berkomunikasi, menyampaikan pendapat, berbagi informasi, dan berinteraksi dengan banyak orang tanpa batasan jarak dan waktu. Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi tempat munculnya berbagai masalah, seperti komentar yang kasar, hinaan, fitnah, ujaran kebencian, dan penyebaran informasi yang belum tentu benar atau hoaks. Oleh karena itu, menjaga lisan dan tulisan menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi generasi muda yang paling aktif menggunakan media sosial.

Islam mengajarkan umatnya agar berhati-hati dalam berbicara. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut sangat sesuai dengan kehidupan di era digital. Walaupun hadis tersebut berkaitan dengan perkataan lisan, pesan yang terkandung di dalamnya juga dapat diterapkan dalam penggunaan media sosial. Tulisan, komentar, status, dan pesan yang kita kirim merupakan bentuk komunikasi yang akan dibaca oleh banyak orang. Karena itu, sebelum menulis sesuatu, kita sebaiknya memikirkan apakah perkataan tersebut baik dan bermanfaat atau justru dapat menyakiti orang lain dan menimbulkan dosa.

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga orang lain dari ucapan dan perbuatan yang buruk. Beliau bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang muslim seharusnya tidak menyakiti orang lain, baik melalui perbuatan maupun perkataan. Dalam konteks media sosial, “lisan” dapat kita ibaratkan sebagai tulisan atau komentar yang kita buat, sedangkan “tangan” adalah tindakan kita dalam membagikan konten. Seseorang mungkin tidak menyakiti orang lain secara langsung, tetapi perkataan yang kasar di kolom komentar media sosial tetap dapat membuat orang lain merasa sedih, tersinggung, bahkan dapat berdampak pada kesehatan mentalnya.

Masalah lain yang sering terjadi di media sosial adalah penyebaran informasi yang belum diketahui kebenarannya. Seseorang terkadang langsung membagikan berita hanya karena judulnya menarik atau karena informasi tersebut sedang ramai dibicarakan dan viral. Padahal, belum tentu informasi tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Rasulullah SAW bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan agar kita tidak sembarangan menyampaikan setiap informasi yang kita terima. Hal ini sangat penting di era media sosial karena sebuah informasi dapat tersebar dengan sangat cepat hanya dalam hitungan detik. Ajaran ini sejalan dengan prinsip tabayyun atau memeriksa kebenaran. Sebelum membagikan berita, kita seharusnya memeriksa sumber dan kebenarannya terlebih dahulu agar tidak menjadi bagian dari penyebar kebohongan.

Menjaga lisan di era digital bukan berarti kita tidak boleh menyampaikan pendapat. Kita tetap boleh memberikan kritik dan menyampaikan pandangan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang sopan dan santun. Perbedaan pendapat juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menghina, merendahkan, atau menjatuhkan satu sama lain.

Media sosial sebenarnya dapat menjadi tempat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan baik dan bijak. Kita dapat menggunakannya untuk belajar, berbagi pengetahuan, memberikan motivasi, berdakwah, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat bagi orang banyak. Karena itu, setiap pengguna media sosial perlu memiliki tanggung jawab dan kesadaran penuh atas apa yang ditulis dan dibagikan.

Pada akhirnya, ajaran tentang menjaga lisan tetap relevan meskipun cara manusia berkomunikasi telah berubah dari zaman ke zaman. Tiga hadis tersebut mengingatkan kita untuk berkata baik, tidak menyakiti orang lain, dan tidak menyebarkan setiap informasi yang kita dengar. Jika ajaran tersebut diterapkan dengan konsisten dalam kehidupan bermedia sosial, maka media sosial dapat menjadi ruang komunikasi yang lebih baik, santun, aman, dan bermanfaat bagi banyak orang. (Imroatul Hasanah – Semester 1)