SUBDIREKTORAT MA’HAD ALY KEMENAG RI DORONG PENGUATAN RISET DAN KEMITRAAN STRATEGIS

Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Subdirektorat Ma’had Aly menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Penguatan Kerjasama Ma’had Aly dengan Mitra” di Jakarta Pusat pada tanggal 5–7 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam memperkuat jejaring kerjasama, pengembangan riset, serta peningkatan mutu kelembagaan Ma’had Aly di Indonesia.

Pada acara pembukaan, Kasubdit Ma’had Aly, Dr. Mahrus El-Mawa, menyampaikan bahwa Ma’had Aly diharapkan mampu menjadi pilar keilmuan pesantren yang terus menjaga tradisi akademik Islam berbasis pesantren sekaligus menjawab tantangan zaman.

“Ma’had Aly diharapkan menjadi pilar keilmuan pesantren,” ungkapnya dalam sambutan pembukaan kegiatan.

Pada sesi pertama, narasumber Prof. Nur Syam memaparkan berbagai jenis penelitian, mulai dari monodisipliner, interdisipliner, multidisipliner, hingga crossdisipliner. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa kajian di Ma’had Aly harus tetap berbasis nash atau teks-teks keilmuan agama.

Menurutnya, penelitian empiris lebih tepat menjadi garapan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS). Namun demikian, apabila penelitian di Ma’had Aly bersifat lintas disiplin, maka kajian dapat diperluas dengan menelaah teks-teks kitab yang berkaitan dengan ilmu umum.

Narasumber kedua, KH. Muhyiddin Khotib, menyampaikan materi terkait otoritas keilmuan pesantren dan standar mutu Ma’had Aly. Beliau menekankan pentingnya menjaga kekhasan tradisi akademik pesantren sekaligus memperkuat standar mutu pendidikan agar Ma’had Aly semakin diakui dalam dunia pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia. Selain itu proses penyaringan calon mahasantri Ma`had Aly harus dikawal dengan ketat. Calon mahasantri Ma`had Aly tidak perlu ditanya kamu lulusan apa? Tapi yang perlu ditanya adalah kamu bisa apa?.

Sementara itu, pada sesi berikutnya, materi disampaikan oleh Drs. Yasmon, M.L.S. selaku Direktur Kerja Sama, Pemberdayaan, dan Edukasi pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) di bawah Kementerian Hukum Republik Indonesia. Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara komprehensif mengenai pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan hak paten yang dapat dikembangkan oleh Ma’had Aly, baik dalam bidang karya ilmiah, inovasi akademik, maupun produk kelembagaan lainnya.

Beliau menegaskan bahwa karya-karya para kiai, dosen, dan mahasantri memiliki nilai intelektual yang sangat penting sehingga perlu mendapatkan perlindungan hukum melalui hak cipta dan bentuk perlindungan kekayaan intelektual lainnya. Menurutnya, pengajuan hak cipta tidak hanya berfungsi sebagai bentuk perlindungan terhadap karya akademik dan keilmuan pesantren, tetapi juga menjadi upaya menjaga otentisitas, memperkuat pengakuan kelembagaan, serta mendorong lahirnya tradisi akademik yang produktif dan inovatif di lingkungan Ma’had Aly.

Di akhir kegiatan, Direktur Pendidikan Diniyah dan Ma’had Aly, Dr. Basnang Said, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut serta harapan besar terhadap kemajuan Ma’had Aly ke depan.

Beliau juga mengutip pernyataan Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar, bahwa “Ma’had Aly adalah penantang baru bagi PTKIN.” Pernyataan tersebut menunjukkan optimisme terhadap perkembangan Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan tinggi pesantren yang memiliki potensi besar dalam pengembangan keilmuan Islam di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara Ma’had Aly dan berbagai mitra strategis dalam bidang penelitian, pengabdian, penguatan mutu akademik, serta pengembangan kelembagaan pesantren di masa mendatang. Kegiatan tersebut dihadiri oleh para pimpinan dan perwakilan Ma’had Aly dari berbagai daerah, termasuk Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI). Ketua AMALI, KH. Dr. Nursalikin, menugaskan Koordinator Bidang Riset, Penelitian, dan Pengabdian sekaligus Mudir Ma’had Aly Zainul Hasan Genggong, Dr. Ahmad Muzakki, untuk mengikuti kegiatan tersebut.